Monday, February 24, 2014

Pergantian Langit dan Bumi pada Hari Kiamat di dalam Surah At-Takwir


“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta buntung ditinggalkan, dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan pabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh, dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh? Dan apabila lebaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila surga didekatkan, setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (at-Takwiir: 1-14)

Ini semua adalah sifat hari kiamat. Apabila matahari digulung, di mana Allah mengedarkan dan menghilangkannya ke tempat yang Dia kehendaki. Apabila bintang-bintang berjatuhan dan berhamburan. Apabila gunung-gunung dicabut dan dilenyapkan dari tempat-tempat kedudukannya di bumi, kemudian dijalankan di udara layaknya kapas yang di hembus angin.

Apabila unta hami, yaitu harta paling berharga bagi gansa Arab, ditinggalkan dan di abaikan, tanpa adala pengembala dan pemerah susu, disebabkan perkara yang melanda mereka. Apabila binatang-binatang liat dikumpulkan untuk diberlakukan qishash di antara sesama mereka; binatang berbulu dipersilahkan menuntut balas kepada binatang bertanduk. Apabila laut dinyalakan dengan gunung berapi dan gempa, sehingga ia menjadi api yang menyala-Nyala, setelah sebelumnya membanjiri satu sama lain, sehingga kini menjadi satu kesatuan.

Apabila nyawa disandingkan dengan tubuhnya ketika penghidupan yang kedua. Apabila anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, karea takut aib ataumiskin, ditanya tentang dosa yang karenanya ia dibukuh, sehingga menjadi ancaman bagi pembunuhnya. Sebab, ketika orang yang dizalimi ditanya, apa dugaan yang berkecamuk di pikiran orang yang menzalimi ketika itu? Ini adalah bentuk celaan terhadap bangsa Arab yang melakukan tindakan tersebut, pertanyaan kepada anak peremuan itu adalah untuk mempertanyakan keberadaan para pembunuh mereka.

Apabila lembar-lembar catatan amal di hamparkan dan disebar untuk diberlakukan perhitungan, yakni di mauqif (tempat) perhitungan. Setiap manusia akan menerima lembar catatannya, entah dengan tangan kanan sehingga ia akan selamat, atau dengan tangan kiri bahkan dari belakang punggung sehingga ia akan binasa. Apabila langit dihilangkan, sebagaimana kulit domba ketika dikuliti. Dihilangkannya langit: digulung sperti lembar catatan yang digulung, sehingga tidak ada lagi wujudnya yang tersisa.

Apabila neraka dinyalakan untuk musuh-musuh Allah dengan penyalaan yang dahsyat, dan apinya disulut. Apabila suga didekatkan kepada para calon penghuninya, yaitu orang-orang bertakwa dan beriman, agar mereka memasukinya.

Jawaban untuk kata ‘apabila’ pada semua ayat yang disebutkan di atas, terdapat di dalam firman Allah, “setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” Yakni, setiap jiwa yang menjumpai perwujudan amal perbuatan yang telah dikerjakannya, entah keburukan sehingga ia masuk neraka, atau kebaikan sehingga ia masuk surga. ‘Jiwa’ di sini adalah kata jenis, artinya semua jiwa mengetahui. Kata ‘Jiwa’ disebutkan dengan bentuk tunggal untuk menarik perhatian akan akan hinanya satu orang individu dan minimnya upaya untuk membela diri sendiri. Ayat-ayat tersebut mulai dari awal surah hingga ayat ini merupakan kalimat syarat, jawabannya ialah, “setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.”

Di dalam surah At-Takwir, kejadian-kejadian pada hari perhitungan disebutkan secara global, di mana cukup diisyaratkan dengan pertanyaan kepada anak anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, kemudian dinyalakannya neraka dan didekatkannya surga.

Itulah gambaran kiamat yang ada pada surah at-Takwir ayat1-14. Tafsir Qur’an surah at-Takwir yang di kutip dai buku tafsir al-Wasith, baca juga tafsir surah lainnya seperti tafsir surah al-Insyiqaaq pada blog tafsir Qur’an. Atau beli buku tafsir al-Wasith di tempat jual buku Islam Online di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Lombok, Bali, Sumatra, Kalimantan.



Judul Buku: Tafsir al-Wasith
Penulis: Dr. Wahbah Az-Zuhaili
Penerbit: Gema Insani
Tahun: 2012

Tafsir Surah Al-Insyiqaaq ayat 1-5: Kengerian Hari Kiamat dan Kondisi Manusia di Dalamnya


Berikut adalah tafsir Qur’an surah al-Insyiqaaq yang dikutip dari buku Tafsir Al-Wasith oleh Dr. Wahbah Zuhaili. Baca juga tafsir Qur’anSurah al-Infithaar dalam blog tafsir Qur’an. Atau beli bukunya di toko bukuonline Islami.

“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh, dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh. Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya. Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang, maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!” Dan dia akan masuk ke dalam api ang menyala-nyala (neraka). Sungguh, dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia mengira bahwa da tidak akan kembali (kepaa Tuhannya). Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.” (al-Insyiqaaq: 1-5)

Apabila langit terbelah dan pecah, sebagai pertanda hancurnya alam semesta, ia tunduk kepada Tuhannya dan menunaikan setiap apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya. Dan sudah semestinya ia taat kepada perintah-Nya serta tunduk dan mendengar.

Apabila bumi dihamparkan, diratakan dan diluaskan, gunung-gunung dan bukit-bukit menjadi sirna, bumi memuntahkan dan mengeluarkan segala isinya, meliputi mayat-mayat dan harta kekayaan, ia lemparkan semua itu ke permukaannnya, maka perutnya kosong dari segala isinya dan tidak ada lagi yang tersisa.

Bumi mendengarkan dan menaati perintah larangan Tuhannya, dan sudah sepantasnya ia mendengarkan apa yang dikehendaki Tuhan terhadapnya, sebab ia berada di dalam genggaman kekuasan Ilahi. Kalimat ini diulangi agar menjadi penegasan.

Jawan ‘apabila’ terhapus, untuk mengisyaratkan kengerian kepada umat manusia. Penjelasannya: Apabila semua itu telah terjadi, maka kalian akan melihat amal perbuatan kalian, yang baik maupun buruk.

Wahai manusia- yang dimaksud adalah kata jenis, mencakup orang mukmin dan orang kafir-sesungguhnya kamu telah berbuat di dalam kehidupan ini, kamu bersungguh-sungguh dan bersusah payah di dalam perbuatanmua, kamu melakukannya dengan eras guna bertemu Tuhanmu dan bertemu amal perbuatanmu, yang baik maupun yang buruk.

Firman Allah, “Maka kamu akan menemuinya.” Menurut pendapat jumhur, kata ganti ‘nya’ tersebut kembali kepada Tuhan. Berdasarkan pendapat ini, maka huruf fa’ adalah kata sambung, menyambung kata ‘menemui’ dengan kata ‘bekerja keras’.

Kemudia Allah menyebutkan kondisi umat manusia dan terbaginya mereka menjadi dua golongan:

Golongan pertama: kaum mukminin yang disifat dengan firman-Nya, ‘Adapun orang yang kitab catatab amalnya diberikan dengan tangan kanannya.’ Mereka adalah kaum mukmini. Dia akan diperiksa denganpemeriksaan yang mudah, yakni semua amal keburukannya dihamparkan di hadapannya kemudian Alah mengampuni dan memaafkannya, tanpa diajukan pertanyaan sebagai bentuk pemeriksaan. Orang yang diperiksa dengan pemerksaan yang ringan, akan kembali kepada keluarga dan kaum kerabatnya di surga dengan bangga, gembira dan senang, disebabkan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya, juga disebabkan kebaikan dan kemuliaan yang dianugerahkan kepadanya.

Golongan keduda: Kaum kafir yang disifati dengan firman-Nya, ‘Adapun orang yang kitab atau lembaran amalnya diberikan melalui tangan kiri.’ Atau dari belakang punggungnya, di mana tangannya dibengkokkan ke arah belakang dan dengannya kitab itu diberikan, sedangkan tangan kanannya dibelenggu di leher. Begitu membaca kitabnya, ia berseru, “Celakalah aku.” Yakni, kebinasaan dan kerugian menimpaku. Kemudian ia masuk ke dalam neraka Jahanam, hingga sampai kepada panas dan dahsyat apinya.

Kemudian Allah menyebutkan dua faktor penyebab adzab yang diterima orang kafit, yaitu:
·      Ia dulu di dunia bergembira dan congkak, tidak memikirkan akibat perbuatan dan tidak takut terhadap apa yang ada di hadapannya (akhirat). Melainkan ia hanya mengikuti hawa nafsunya dan memperturutkan syahwatnya dengan sombong, karena pada kenyataannya ia tidak beriman kepada akhirat, sebagimana yang terlihat jelas pada sebab kedua.
·      Penyebab kegembiraan dan kecongkakak di atas: dugaannya bahwa ia tidak akan kembali kepada Allah SWT, juga tidak dibangkitkan untuk perhitungan amal dan hukuman, serta tidak dikembalikan setelah kematian.

Lalu Allah membantah dugaannya dengan berfirman, “Tidak demikian.” Yakni: Tidak demikian, sesungguhnya ia akan kembali kepada Allah SWT, Tuhannya akan mengembalikan kepada-Nya sebagaimana dahulu Dia telah memulai penciptaannya, Dia akan memberikan balasan amal perbuatannya, tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari-Nya.

Dalam hal ini terdapat petunjuk yang jelas bahwa menjadi sebuah keniscayaan adanya negeri pembalasan selain negeri pembebanan kewajiban, karena yang demikian itu adalah tunututan pengetahuan yang sempurna, kekuasaan menyeluruh dan hikmah paripurna.

Tanda-tanda hari kiamat dan kesudahan manusia didalamnya (Tafsir Surah Al-Infithaar)


“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kubran-kuburan dibongkat, (maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya). Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih. Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuh mu. Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Dan sesungguuhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka tidak mungkin keluar dari neraka itu. Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (yaitu) pada hari (ketika( seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala  urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (al-Infithaar: 1-19)

Ini adalah sifat-sifat hari kiamat, Allah mengingatkan kita tentangnya, dan tentang apa yang dipersembahkan oleh manusia pada hari itu berupa kebaikan dan keburukan, serta balasan yang diterimanya. Apabila langit terpecah dan terbelah, dan bintang-bintang berjatuhan lalu berhamburan tak tentu arah. Apabila sisi-sisi laut dipecahkan sehingga semuanya menjadi satu lautan, kemudian dinyalakan api pada lautan itu. Ini adalah tanda-tanda hari kiamat. Jawaban kalimat syarat ialah:

Apabila perkara-perkara tersebut telah terjadi, dan kitab-kitab catatan amal diserahkan, setiap jiwa akan mengetahui amal kebaikan dan keburukan yang telah dikerjakannya, juga perbuatan-perbuatan yang dia tangguhkan karena malas dan lalai.

Wahai manusia yang mengetahui kesudahan alam semesta, apa yang memperdayamu dan menjadikanmu begitu lancang untuk mendurhakai Tuhanmu, Tuhan yang telah menciptakanmu dengan anggota tubuh yang sempurna, dengan postur tubuh yang indah, yang telah  menjadikan struktur tubuhmu seimbang dan serasi, tidak ada ketidakharmonisan pada anggota tubuhmu, kemudian membekalimu dengan indera, seperti pendengaran dan penglihatan, dan di dalam dirimu terdapat akal, pengetahuan dan pemahaman.

Allah telah menyusunmu dalam bentuk apapun yang Dia kehendaki, yaitu bentuk yang paling menakjubkan dan paling indah, sedangkan kamu tidak memilih bentuk dirimu sendiri. Kemudian Allah membantah seluruh perkataan mereka dan menggentarkan mereka dengan firman-Nya, “Sekali-kali jangan begitu!” Lalu Allah menetapkan tindakan mereka yang mendustakan hari pembalasan. Seruan ini bersifat umum, melainkan maknanya khusus bagi orang-orang kafir.

Kemudian Allah menambahkan peringatan untuk tidak membangkang dan bersikap lalai: Bahwasanya seluruh amal perbuatan disimpan oleh para malaikat untuk segenap umat manusia. Sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat pencatat yang mulia, maka janganlah kalian menhadapi mereka dengan perbuatan buruk, sebab mereka mencatat semua amal perbuatan kalian, dan mereka mengetahui segala tingkah laku kalian. “(malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu).” Mereka adalah para malaikat yang menulis amal perbuatan anak cucu Adam. Allah menyifati mereka dengan kemuliaan, yang menafikan kehinaan. “mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Karena mereka menyaksikan kondisi anak cucu Adam.

Umat manusia pada hari kiamat terbagi menjadi dua golongan:

Sesungguhnya orang-orang yang berbakti, yaitu yang taat kepada Allah SWT dan tidak menghadapNya dengan kemaksiatan, mereka mengarah kepada surga. Sedangkan orang-orang yang durhaka, yaitu orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulnya, yang menghadap Rabb mereka dengan kemaksiatan, mereka mengarah ke neraka yang membakar.

 “Dan mereka tidak mungkin keluar dari neraka itu.” Yakni, mereka tidak akan meninggalan neraka jahim dan tidak keluar dari adzab mesi hanya sejenak. Mereka juga tidak mendapatkan keringanan dari adzabnya, bahkan mereka berada di dalam adzab itu untuk selama-lamanya, mereka senantiasa menetapinya.

Kemudian Allah menyifati hari kiamat dengan penyifatan yang mengispirasikan puncak kengerian, disertai penegasan dua kali, yakni di dalam firman-Nya, “Dan taukah kamu..” Yakni, Apa yang kamu tahu tentang hari penghitungan dan hari pembalasan? Kalimat ini diulangi untuk mengisyaratkan keagungan perkara hari kiamat, yang mendorong orang untuk merenungkan dan mencernanya.

Kemudia Allah SWT mengumumkan ketetapan-Nya yang tegas tentang keadaan manusia pada hari kiamat. Allah berfirman, (Yaitu) “pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya..” Yakni, hari di mana tidak ada seorangpun siapapun dia yang mampu memberi manfaat kepada orang lain atau menyelamatkannya dari kondisi yang dialaminya, kecuali Allah memberi izin kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia ridhai (untuk melakukannya).

Itulah tanda-tanda hari Kiamat dan kesudahan manusia didalamnya, Tafsir Surah al-Infithaar ayat 1-19. Baca juga seputar tafsir Qur’an lainnya di blog Tafsir Qur’an. Atau beli buku Tafsir Al-Wasith di toko buku, toko buku Islam, toko buku agama Islam di Bogor, Sumedang, Bandung, Tasikmalaya, Jakarta, Sukabumi, dan kota-kota lainnya. Atau beli secara online.


Judul Buku: Tafsir Al-Qur'an al-Wasith
Penulis: Dr. Wahbah az-Zuhaili
Penerbit: Gema Insani
Tahun: 2012

Inilah persamaan dan perbedaan dari tafsir al-Wasith dengan tafsir sebelumnya



·      Ketiga tafsir tersebut sama dalam menjelaskan kandungan ayat secara terperinci dan menyeluruh, serta dengan gaya bahasa sederhana dan mudah dicerna. Sama dalam menjabarkan sebab turunnya ayat yang shahih dan terpercaya. Sama dalam mengutip ayat (lain) dan hadits-hadits shahih yang sesuai dengan tema dan kandungan ayat dimaksud. Sama dalam menghindari cerita dan riwayat Israiliyat yang tidaak ada tafsir klask yang terbesar darinya. Sama dalam berkomitmen terhadap prinsip-prinsip tafsil bil-ma’tsur dan tafsir bir-ra’yi  sekaligus. Serta, sama dalam berpedoman dengan kitab-kitab induk tafsir dengan berbagai manhaj-Nya.

·      Tafsir al-Munir secara spesifik menjelaskan ayat secara lebih luas dan menyeluruh. Pada awal masing-masing surat diuraikan penafsirannya secara global, disebutkan keutamaan surat yang disarikan dari khabar-khabar palsu atau lemah, dijelaskan kesesuaian surah dan ayat satu sama lain. Diuraikan kisah dan peristiwa sejarah masa lampau serta berbagai kejadian di dalam sirah nabawiyah, disimpukan hukum-hukum syar’I dengan makna yang luas mencakup bidang aqidah, ibadah, akhlak dan sopan santu, pelajaran dan nasihat, sisten sosial dan transaksi serta prinsip-prinsip kehidupan Islami secara umum. Tafsir ini juga mempunyai keistimewaan berupa penjelasan kosakata bahasa secara lengkap dan menyeluruh, disertai penjabaran sisi-sisi balaghah (keindahan kata) dan I’rab (kedudukan kata dalam kalimat). Ditambah lagi dengan komentar catatan, perbandingan dan isyarat tentang mukjizat dan keajaiban Al-Qur’an sesuai ilmu pengetahuan modern.

·      Tafsir al-Wajiz sekadar menjelaskan tujuan dari setiap ayat dengan ungkapan-ungkapan komprehensif, tanpa mengesampingkan makna yang dimaksud dan yang tersembunyi pada masing-masing ayat. Tidak membuat pembahasan panjang dan menyimpajg dari pembahasan utama. Menjelaskan beberapa kata yang sangat rumit pengertiannya. Kemudian di tengah-tengah penjelasan disampaikan sebab turun dari masing-masing ayat

·      Sedangkan Tafsir al-Wasith ini, di dalamnya ditambahkan penafsiran beberapa ayat yang terdapat pada tafsir al-Munir. Di dalamna dijelaskan makna beberapa kata penting yang dirasa samar pengertiannya disertai isyarat tentang sebab turun masing-masing ayat. Dengan demikian, ungkapan-ungkapan di dalam ketiga tafsir ini terkadang berkesesuaian dan terkadang berlainan tergantung kepada kebutuhan dan konteks penjelasan kata dan kalimat. Terkadang disampaikan I’rab yang sangat diperlukan untuk menjelaskan mana. Sedangkan, Tafsir al-Wajiz ini memiliki keistimewaan berupa kesederhanaan gaya bahasa dan kedalaman makna pada saat yang sama, juga disampaikan mukadimah dari masing-masing kumpulan ayat yang tertuang dalam satu judul tersendiri. Apa yang penulis lakukan dalam bidang tafsir dan banyak karya ilmiah penulis yang lain tidak lain bertujuan untuk memudahkan penyampaian ilmu dengan gaya bahasa yang jelas dan fleksibel, dengan ungkapan-ungkapan yang tidak rumit dan tidak samar. Dan penulis sangat berbahagia ketika masyarakat begitu antusias menyambut dua tafsir sebelumnya. Sebab pada kedua-nya mereka menemukan apa yang mereka inginkan dan menjadi kecenderungan jiwa mereka.

      Dapatkan buku tafsir Al-Qur'an ini di tempat jual buku islam Online, atau kunjungi toko buku Islami yang ada di kota anda. Baca juga pentingnya memahami Al-Qur'an di blog Tafsir Al-Qur'an.

Tafsir al-Wasith, buku tafsir yang bisa menjadi pedoman anda memahami Al Quran

Al-Qur’an adalah kitab umat Islam yang diturunkan sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an juga merupakan sumber utama dari sumberhukum Islam, selain As-Sunnah. Untuk memahami isi Al-Qur’an sebagai pedoman hidp sesuai tuntutan syariat maka dibutuhkan panduan atau penjelasan yang benar dan hanif serta berdalil yang syar’i. Dengan latar belakang dari hal itu, maka Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang ulama besar sekaligus ilmuwan asal Syria memberikan kemudahan kepada kita untuk memahami Al-Qur’an dengan menafsirkan Al-Qur’anul Karim sesuai dengan aturan dan tuntunan syariat dengan bahasa yang mudah kita fahami.

Tafsir al-Wasith, buku yang pada awlanya merupakan hasil dari kajian radio yang direkam dan disiarkan di radio umum Syria. Lalu disiarkan di Radio Suara Rakyat di Syria. Namun, sejalan dengan perkembangannya, maka ditindaklanjuti dengan diinisiatifkan untuk membukukan program acara radio tersebut menjadi sebuah buku. Dengan perjalanan seperti itu, maka terbitlah kitab Tafsir Al-Wasith.



Buku tafsir ini memiliki keistimewaan dibandingkan dua kitab tafsir sebelumnya yang juga ditulis oleh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir al-Wasith ini, di dalamnya ditambahkan penafsiran beberapa ayat yang terdapat pada Tafsir al-Munir. Di dalamnya dijelaskan makna beberapa kata penting yang dirasa samar pengertiannya disertai isyarat tentang sebab turun masing-masing ayat. Selain itu, buku Tafsir Al-Wasith ini juga ditulis dam disusun secara proporsional sehingga setiap individu Muslim dapat dengan mudah memahaminya sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Buku Tafsir al-Wasith ini terbagi menjadi 3 jilid yang dimana masing-masing dari jilidnya terdiri dari 10 juz Al-Qur’an. Pada Tafsir al-Wasith jilid 1 ini, anda akan mendapatkan poin-poin bahasan penting yaitu:
·      Tafsir ini bersandar pada prinsip-prinsip tafsir bil’ma’tsur dan bir-ra’yi
·      Tafsir ini menjelaskan kandungan ayat secara terperinci dan menyeluruh, serta dengan gaya bahasa sederhana dan mudah dicerna.
·      Tafsir ini menjelaskan sebab turunnya ayat (asbabun nuzul ayat) yang shahih dan terpercaya
·      Tafsir ini berpedoman pada kitab-kitab induk tafsir dengan berbagai manhajnya.
·      Tafsir ini menghapus riwayat-riwayat Israiliyat.

Sebuah referensi tafsir Al-Qur’an terbaik untuk menambah literartur keIslaman Anda. Baca perbedaan tafsir Al Quran al-Wasith ini dengan sebelumnya di blog tafsir Al Quran. Atau beli bukunya di toko buku Islam  di kota anda.